Spesialisasi Penerjemah Fiksi, Perlukah?

Semua orang tahu bahwa mencintai pekerjaan akan memberi hasil maksimal. Hampir semua penerjemah/editor yang kukenal sungguh mencintai pekerjaan mereka dan sangat berdedikasi. Hasil yang maksimal hampir selalu mereka berikan untuk pembaca. Tapi apakah menjadi penerjemah berarti harus menyukai semua genre?

Melihat pengalaman beberapa penerjemah (biasanya pada permulaan karier), mereka menerima jenis buku apa pun yang diutamakan penerbit. Dari yang kudengar, penerjemah pemula biasanya tidak bisa terlalu jadi pemilih. Ada kenalan (yang tidak perlu kusebutkan namanya di sini) yang pernah mengeluh, “Sebetulnya gue nggak suka genre ini, tapi apa boleh buat, ini yang disodorin penerbit.” Aku tahu dia berusaha keras mengerjakannya dengan baik, meski butuh waktu lebih lama daripada mengerjakan genre kesukaannya.

Aku sendiri termasuk yang amat sangat beruntung. Sebelum menerima buku pertama untuk diterjemahkan, aku ditanya, “Kamu suka genre apa aja? Buku-buku yang paling kamu suka nanti yang bakal kita kasih ke kamu.” Aku tahu kesempatan seperti ini jarang terjadi, maka aku bersyukur sekali. Sejak semula aku sudah menegaskan bahwa aku suka fantasi, horor, fiksi ilmiah, buku anak-anak dan remaja. Aku kurang suka fiksi dewasa yang mendayu-dayu dan penuh kejadian tragis. Dan jangan sekali-sekali memintaku menerjemahkan roman. Karena rasa romansanya akan hambar jika ditangani olehku. Berikan fiksi roman kepada mereka yang lebih ahli. Bukannya aku tidak pernah baca roman. Aku menyukai beberapa roman tertentu, terutama karya-karya klasik. Tapi untuk menerjemahkan, butuh ‘nyawa’ dan ‘rasa’ agar hasilnya menjadi ‘hidup’. Aku tidak bisa memberikan itu untuk genre roman. Mengetahui batasan kemampuan diri sendiri sangat penting dalam pekerjaan ini. If I bite more than I can chew, aku bakal mengecewakan banyak orang. Dan batasan kemampuanku berhenti pada fiksi roman.

Maka, perlukah spesialisasi dalam menerjemahkan? Menurut diriku sendiri, perlu. Aku perlu memberi batasan mana yang mampu kukerjakan dan mana yang tidak agar hasilnya bisa maksimal. Menurutku sah saja jika seorang penerjemah meminta kepada penerbit agar tidak memberikan genre yang takkan mampu ditelannya. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.

Contoh kecil saja, penerjemah bahasa Jepang jumlahnya masih sedikit sekali. Penerbit mungkin akan mencari seorang penerjemah Jepang mana saja untuk mengerjakan sebuah karya klasik, horor, fantasi, roman, dan sebagainya. Jika sedang tertimpa sial, penerbit akan memperoleh hasil terjemahan kacau balau jika si penerjemah tidak mampu memberi rasa kepada genre tertentu, tapi penerbit tidak punya pilihan lain. Mungkin saja si penerjemah Jepang lebih menyukai genre roman, dan ketika diberi tugas menerjemahkan genre horor, hasilnya kusut masai.

Dari pengalaman, aku melihat lebih banyak buku yang aslinya berbahasa non-Inggris dicari dulu terjemahan Inggris-nya, baru kemudian diserahkan kepada penerjemah dua-bahasa sepertiku untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Terjemahan dari terjemahan.

Penerjemah multibahasa rupanya harus lebih berhati-hati dalam memilih pekerjaan mana yang diterimanya. Jangan mentang-mentang aku bisa berbahasa Rusia, misalnya (I wish!) maka aku segera diminta menerjemahkan Anna Karenina versi asli yang terbit tahun 1878. Karena aku tidak tahan membaca buku itu. Membaca terjemahan Inggris-nya, aku berhasil melemparkan buku itu jauh-jauh setelah lima halaman (dan pastinya bukan disebabkan terjemahan Inggris yang buruk).

Apakah semua penerjemah harus memiliki spesialisasi? Tentu saja tidak. Beberapa penerjemah yang kukenal mampu mengerjakan genre apa saja dengan baik. Toh dalam satu genre saja, aku masih menemukan mana yang kusuka dan mana yang tidak. Buku fantasi A lebih mudah kukerjakan daripada buku fantasi B karena buku fantasi B membuatku ingin menguap di setiap lembar halamannya. Jika masih ada teman penerjemah di luar sana yang terpaksa mengambil pekerjaan tidak sesuai dengan genre kesukaannya, hang in there. Jika penerbit menyadari bahwa ada beberpa genre yang lebih disukai penerjemah tertentu, dan si penerjemah ternyata mampu mengerjakannya jauh lebih baik daripada genre lain, maka penerbit juga akan mempertimbangkan untuk memberinya spesialisasi, dengan tujuan mendapat hasil maksimal. Ini yang kunamakan win-win solution.

Bagi teman-teman yang mampu mengerjakan semua genre dengan baik, selamat. Kalian adalah penerjemah idaman. Bagi orang-orang sepertiku yang memberi batasan pada genre-genre tertentu, banyak sekali penerbit, banyak sekali genre di dunia perbukuan, jika kita mengerjakannya dengan sepenuh hati, pekerjaan di luar sana banyak menanti.

Apa aku tidak takut dicap penerjemah sok pemilih? Tidak. Karena aku memilih untuk mengerjakan apa yang kusukai, karena aku memilih untuk tidak memberi hasil yang buruk, karena aku memilih untuk bersikap profesional. Dengan begitu, semakin sedikit kemungkinan aku mengecewakan banyak orang. Selamat bekerja 🙂

Advertisements

One comment

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: