Ketika Naskah dan Penerbit Berjodoh

Bagi penulis pemula yang baru menawarkan naskah pertamanya ke penerbit, proses “menjual naskah” ini bisa bikin sakit kepala dan putus asa. Seorang penulis pemula harus menunjukkan gigi dan membuktikan dia memang bisa menulis, bahwa naskahnya memang layak terbit. Naskah pun dikirim ke berbagai “target”. Sedikit sekali penulis yang langsung mendapat respon positif dari penerbit untuk karya pertamanya. Banyak sekali yang mengalami penolakan demi penolakan. Inilah yang membuat beberapa penulis putus asa.

Biasanya, setahuku, penulis akan mencoba menawarkan naskah ke penerbit besar dulu. Jika tidak tembus, barulah melirik penerbit kecil. Memang tidak semuanya, ada beberapa yang lebih memilih penerbit kecil dengan berbagai alasan. Ada yang alasannya idealis, atau logis. Pastinya, itu hak semua penulis.

Ada beberapa kejadian yang membuatku geleng-geleng kepala. Seorang penulis pemula mengeluh karena penerbit A menolak naskahnya. Tuduhnya, penerbit A hanya mau menerima naskah dari penulis yang sudah punya karya sebelumnya. Atau penerbit B hanya mau menerima naskah genre tertentu saja, nanti jika si penulis sudah menerbitkan karya di penerbit tersebut dengan genre yang dimaksud, barulah si penulis bisa menembuskan naskah ber-genre lain ke penerbit yang sama. Padahal ada bukti kuat bahwa tidak seperti itu keadaannya di penerbit A maupun penerbit B.

Ada lagi penulis yang memberi usul dengan berapi-api, bahwa seorang penulis senior seharusnya pensiun saja, untuk memberi ruang bagi penulis baru. Hah? Jadi, kalau ada penulis senior yang terus menelurkan karya sampai, misalnya, usianya 100 tahun, berarti penulis baru tidak akan punya “tempat” di penerbit yang sama?

Ada lagi yang bikin aku tertawa. Seseorang pernah menuduh bahwa penerbit C menolak naskah temannya yang dikirim ke sana karena si penerbit lebih memilih menerima naskah seorang artis terkenal! Katanya, pantesan naskah temannya tidak diterima, karena si artis anu juga mengirimkan naskah ke sana, tentu saja penerbit lebih memilih menerbitkan karya orang ngetop.

Coba dipikirkan dengan tenang. Penerbit mana pun pasti punya selera sendiri. Masing-masing penerbit punya standar berbeda. Ditolak di penerbit A belum tentu ditolak di penerbit B. Katakan saja, naskah dan penerbit harus berjodoh baru bisa bekerja sama. Kalau tidak jodoh, carilah penerbit lain. Tapi, kalau karya penulis ditolak di mana-mana, tidakkah terpikir bahwa mungkin, barangkali, naskahnya belum layak terbit?

Banyak sekali kejadian di mana pembaca mencaci sebuah buku, dengan berkata, “Kok yang seperti ini bisa diterbitkan sih? Apa nggak pakai editor?” Itulah yang dihindari sebagian besar penerbit. Ada beberapa naskah yang tampaknya layak diterbitkan jika dilakukan revisi. Ada juga yang langsung ditolak mentah-mentah karena berbagai alasan, bukan hanya karena penerbit merasa tidak layak direvisi. Entah karena bertentangan dengan visi penerbit bersangkutan, entah karena mengandung SARA, entah karena seperti jiplakan, dan lain sebagainya yang biasanya tidak diungkapkan penerbit. Penulis yang tidak mau instrospeksi diri biasanya tidak memikirkan alasan ini.

Selagi berusaha menulis naskah pertama kali, aku mengalami berbagai penolakan. Apakah lantas aku menuduh penerbit A, B atau C pilih kasih? Aku hanya berpikir bahwa naskahku belum layak terbit. Itu saja. Apakah JK Rowling lantas menerima tanggapan positif ketika menawarkan naskah Harry Potter-nya? Sepuluh penerbit besar menolaknya. Sepuluh! Sampai akhirnya naskah itu berjodoh dengan Bloomsbury. Apa sebabnya Stephen King nyaris membuang naskah Carrie yang kemudian “diselamatkan” istrinya? Karena Carrie (yang kemudian menjadi salah satu novel horor paing terkenal di dunia) ditolak di mana-mana.

Apakah setiap penulis terkenal bisa menawarkan naskah begitu saja ke penerbit mana saja dan langsung diterima? Tidak juga. Beberapa penulis yang sudah terkenal, yang sudah menelurkan berbagai karya, juga mengalami penolakan jika naskah barunya tidak berjodoh dengan penerbit sasarannya.

Buka pikiran, terima kritikan, belajar dari pengalaman, dan jangan bersikap sinis adalah ha-hal vital yang harus dimiliki seorang penulis, baik pemula maupun sudah kawakan. Kalau naskah ditolak, cari penerbit lain. Jika ditolak di mana-mana, perbaiki, sadarlah bahwa naskah itu belum layak terbit. Hampir semua penulis pernah mengalami hal ini, kalau yang lain tegar, kenapa sebagian lagi tidak bisa? Aku bisa berkata begini karena mengalami sendiri dan berusaha introspeksi diri, bukan asal bicara, dan aku bukan penulis kawakan, aku masih pemula dan masih butuh berbesar hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: