Tuntutan Pembaca

Sejak berkecimpung dalam dunia tulis-menulis, aku jadi paham bagaimana proses penerbitan sebuah buku. Baik terjemahan maupun karya asli. Sejak menjadi penerjemah pemula, aku berusaha mencari tahu seperti apa proses penerbitan itu, bertanya kepada para editor in-house, intinya agar aku lebih menghargai pekerjaan sendiri dan tidak meremehkan tenggat. Aku jadi tahu apa yang mendasari sebuah penerbit membeli hak terbit sebuah karya asing, bagaimana sulitnya mengurus izin untuk naskah dan ilustrasi, proses penerjemahan, sampai bisa bertengger di rak di toko buku.

Beberapa kali aku harus menjelaskan kepada orang bagaimana proses pengerjaan sebuah buku terjemahan. Terutama jika buku yang bersangkutan sangat ditunggu masyarakat luas. Misalnya ketika buku Harry Potter terakhir terbit. Sekitar dua atau tiga bulan setelah buku aslinya terbit, sudah banyak yang bertanya dan mendesak kapan GPU akan mengeluarkan terjemahannya. Bahkan ada beberapa yang bertanya dengan nada tidak sabar dan meremehkan. Akhirnya, aku perlu menjelaskan proses pengerjaan buku itu mulai dari penerjemahan (yang butuh waktu lama karena ketebalannya yang bukan alang kepalang), sampai distribusinya ke toko-toko buku. Apalagi saat itu Mbak Listiana, penerjemahnya, sedang sakit. Alhamdulillah setelah ada penjelasan, tidak ada lagi yang bertanya dengan nada meremehkan, meski masih ada pertanyaan, “Sudah selesai belum?” Hal yang sama juga sempat terjadi ketika aku menerjemahkan Brisingr yang setebal tembok beton. Harap maklum, kami penerjemah tidak mampu bekerja 24 jam sehari sampai satu buku selesai, kami bukan mesin.

Itu buku terjemahan, bagaimana dengan karya asli? Beberapa editor in-house pernah curhat padaku tentang pembaca (atau bahkan penulis) yang cerewet. Ada saja penggemar salah satu penulis yang terus mendesak kapan buku ini dan anu keluar (biasanya sequel yang ditunggu-tunggu) sementara penulisnya sendiri masih melakukan revisi. Sebagian besar penulis tidak bekerja berdasarkan tenggat, mood juga berperan. Setelah selesai ditulis pun harus ada proses editing, proofreading, setting, cetak, sampai distribusi. Itu belum memperhitungkan pembuatan ilustrasi dan merapatkan berapa harga jual yang layak ditempel. Tapi ternyata tidak sedikit pembaca (atau calon pembaca) yang membombardir penerbit dengan pertanyaan mendesak, yang membuat para editor menjambak-jambak rambut. Sementara banyak pula naskah lain mengantri untuk dikerjakan.

Setiap naskah punya jadwal terbit, yang tentunya bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan dan keadaan. Itu juga yang membuat jadwal pengerjaan terjemahan dan editanku tidak konsisten. Kadang-kadang naskah yang tadinya berada di urutan terakhir mendadak harus jadi urutan pertama, entah karena tuntutan pasar atau tuntutan penerbit aslinya di luar negeri sana.

Bagi pembaca, menunggu memang menyebalkan. Tapi percaya deh, penerjemah, editor, penulis dan penerbit kadang-kadang terbirit-birit akibat tuntutan dari semua pihak. Dan aku hanya bisa mewakili diri sendiri di sini, jika aku mengerjakan terjemahan, editan atau menulis naskah terburu-buru, aku takut hasil pun tidak akan maksimal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: