Apa sih susahnya nerjemahin?

Okay, rekan-rekan penerjemah sekalian, pernah dong ada yang nanya seperti ini? Baik dalam arti pertanyaan sebenarnya (benar-benar kepingin tau apa aja kendalanya) maupun dalam nada melecehkan.

Banyak orang mengira menerjemahkan adalah perkara mudah, yang penting hanya menguasai bahasa naskah yang akan diterjemahkan. Mereka semua salah besar. Misalnya naskah asli berbahasa Inggris. Siapa bilang seorang pengguna bahasa Inggris yang sudah yahud bisa menerjemahkan naskah novel? Seorang teman pernah bilang, “Apa susahnya sih? Kan lu ngerti bahasa Inggris, ya tinggal terjemahin aja, gampang kan? Lagian ini kan bukan sastra berat, buku anak-anak gitu loh!” Ini terjadi saat gue cerita ada naskah yang bujubuneng susahnya untuk diterjemahkan. Ih, gue tersinggung!

Maka, sambil kepala berasap, gue tantangin dia nerjemahin satu paragraf saja. Setelah dahinya berkerut-merut dan corat sana coret sini, akhirnya dia menyerah. Sambil tertawa bahagia gue berkata, “Mampus lu!”

Banyak pembaca (yang tentunya jago berbahasa Inggris) yang bilang, “Gak enak baca buku terjemahannya, jelek. Kurang dapet gregetnya.” Mungkin si penerjemah memang belum berhasil menangkap mood cerita ke dalam bahasa Indonesia, tapi lebih seringnya yang terjadi adalah memang naskah asli itu sulit sekali untuk diterjemahkan. Terutama jika naskah berbau humor. Ada lagi yang protes, “Lho, di naskah asli kan nggak begini, kok kalimatnya jadi berubah sih? Payah ah!” Kemungkinan besar yang terjadi di sini adalah naskah asli menggunakan ‘pun’ atau plesetan, yang TIDAK MUNGKIN diterjemahkan dengan persis sama dalam bahasa Indonesia.

Ada lagi pernyataan super duper konyol yang pernah muncul di salah satu forum bertahun-tahun yang lalu, “Terjemahannya jelek, bikin bosen!” Dan begitu ada yang tanya apakah dia pernah baca naskah aslinya, dijawabnya, “Belum.” *jedig!* Lalu indikator terjemahannya jelek dari mana? Dan naskah aslinya dari bahasa Prancis pun. Mbok ya mikir dulu sebelum bikin pernyataan yang mendiskreditkan si penerjemah, kan siapa tau memang naskah aslinya membosankan untuk dibaca, atau itu hanya bukan selera dia.

Memang nggak semua orang yang jago berbahasa Inggris bisa menerjemahkan. Syaratnya, si penerjemah harus bisa:
– Bercerita: karena penerjemah adalah pengarang tidak bebas, yang harus bisa menceritakan ulang sebuah naskah tanpa menerjemahkan kata per kata sama persis, tapi sama sekali tidak mengubah ceritanya. Cobain aja deh!
– Mengerti kultur bahasa/negara/suku yang sedang diceritakan: karena jika ketemu istilah atau peribahasa yang sama sekali tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, si penerjemah harus bisa berimprovisasi. Pernah dengar aksen Cockney di Inggris? Bisa sampe narik-narik rambut nerjemahinnya.
– Menciptakan kata baru: karena beberapa pengarang (terutama kisah fantasi) hobi sekali membuat kata-kata baru yang sama sekali tidak pernah ada di kamus. Apa yang bisa dilakukan? Mengarang kata baru dalam bahasa Indonesia-nya.
– Menciptakan plesetan: karena permainan kata dalam bahasa Inggris bisa membuat seorang penerjemah gerung-gerungan, tidak mampu di-Indonesiakan bagaimanapun caranya.

Dan mau tau apa yang PALING sulit dalam menerjemahkan? Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menguasai tesaurus tak terbatas! Siapa bilang bahasa Indonesia mudah? Banyak teman yang mengaku lebih baik menulis dalam bahasa Inggris (yang grammar-nya sudah baku) daripada menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Makanya kerja editor sangat patut dihargai, karena mereka lah yang mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, serta membetulkan beberapa kesalahan tulis si penerjemah.

Gue sering banget terbentur oleh plesetan. Beberapa plesetan malah sama sekali tidak bisa dijadikan plesetan lagi, maka dalam bahasa Indonesia, hilanglah lucunya. Bukan karena si penerjemah tidak kompeten, tapi coba aja sendiri menerjemahkan plesetan jadi plesetan lagi. Siapa mau terima tantangan?

Misalnya ini. Di buku Bartimaeus 3 Ptolemy’s Gate, ada kalimat yang menggunakan kata “duck”. Dalam bahasa Inggris “duck” bisa berarti bebek atau menunduk. Masalahnya, gue harus menemukan sebuah kata yang hanya terdiri dari DUA sukukata, dan bisa berarti keduanya, dalam bahasa Indonesia. Hasilnya? Nggak nemu. Akhirnya tetap memakai kata “bebek” tapi hilang sudah plesetannya. Sedih kan? Apalagi kalau ada yang komentar terjemahan gue payah karena nggak bisa bikin plesetan “bebek”. Oh please! Kalau bisa “bebek” diganti jadi “cobek” tentu aja gue udah pakai kata “cobek”.

Ibu Listiana Srisanti, penerjemah senior, penerjemah buku-buku Harry Potter, sering menerima surat pembaca yang menyatakan terjemahannya nggak pas, payah, kurang lucu, dan kurang sebagainya. Dengan besar hati Mbak Lis membalas, “Oke, mungkin kamu ada usul bagaimana seharusnya terjemahannya?” Apakah ada SATU pun yang membalas? Tidak. Gue juga pernah menerima feedback seperti ini. Dan mengikuti saran Mbak Lis, gue balik bertanya, apakah si pembaca punya usul dan saran? Jawabannya selalu, “Yah, gitu deh, nggak enak aja dibacanya.” atau tidak ada balasan sama sekali.

Jangan salah, gue selalu menerima dengan tangan terbuka jika ada protes, usul dan kritik. Semua itu sangat membantu. Paling tidak, gue jadi lebih merasa dihargai karena pembaca betul-betul memerhatikan terjemahan gue. Tapi gue juga pingin semua pembaca tau, bahwa menerjemahkan sama sekali bukan sekadar membuka kamus.

Seorang penerjemah senior, Bapak Hendarto Setiadi, yang buku-buku terjemahannya bisa disinonimkan dengan kata “berkualitas tinggi”, pernah membesarkan hati gue saat gue mengeluh masalah ini. Beliau bahkan bilang, penerjemah seharusnya mendapatkan award sendiri. Karena setidaknya seorang penerjemah bisa hampir disamakan dengan seorang penulis, perlu merangkai kata sebagus mungkin tapi jangan sampai mengarang bebas. Amin, Pak Hendarto.

Maka, rekan-rekan penerjemah, berbahagialah karena kita bisa menerjemahkan, merangkai kata-kata, dan menceritakan ulang naskah seorang penulis luar negeri supaya bisa dibaca dan dinikmati masyarakat Indonesia. Bukan berarti kita sudah sempurna kan? Belajar tentu harus terus dilakukan sampai kapan pun. Tapi sebagus apa pun terjemahan kita, jika naskah aslinya memang sangat sulit di-Indonesiakan, berbesar hatilah!

Untuk pembaca, kritik dan saran tetap gue tunggu supaya terjemahan gue nanti jadi lebih bagus lagi. Jika memang kepingin sekali menyerapi cerita dan benar-benar tahu apa yang ditulis langsung dari kepala sang pengarang, bacalah karya aslinya. Karena sebuah karya takkan bisa diterjemahkan dengan benar-benar sempurna dalam bahasa lain. Kekuatan sebuah cerita kadang-kadang bukan pada plot-nya, tapi pada penggunaan bahasanya yang sama sekali tak bisa tergantikan dengan bahasa lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: