Books, Me, Friends and Enemies

Kalau ada yang bertanya siapa sahabat baikku, aku akan menjawab ada dua: suamiku dan buku. Meski keduanya kadang menyebalkan (jika kebiasaan buruk suamiku kumat: meletakkan handuk basah sembarangan, atau ada buku yang ceritanya begitu tidak jelas sehingga kepengin kulempar saja), tapi keduanya tidak ada yang pernah berpaling, menyakiti, atau mengkhianatiku.

Sekilas dari luar aku tampak mudah bergaul. Sebenarnya salah. Aku sangat pemilih dan sulit menerima seseorang menjadi teman dekat. Satu-satunya sahabat yang mengenalku luar dalam adalah suamiku, dan satu-satunya sahabat penghibur hati di saat kapan pun adalah buku. Sejak kecil aku tahu aku lebih mudah mencintai buku daripada menyukai manusia. Bukan karena buku tidak bisa melawan atau adu argumen denganku, tapi karena aku merasa diriku sulit dipahami orang lain. Tentu saja aku tidak mungkin menghindari manusia, tapi buku tetaplah menjadi pilihan utamaku. Kebetulan bertemu sahabat (yang kemudian menjadi suami) yang ternyata menyukai ‘perempuan rumahan’, maka lengkaplah kebahagiaanku.

Buku menghindarkanku menjadi orang yang menyebalkan. Karena aku sering tidak bisa mengendalikan emosi, jika sedang dihadapkan dengan situasi yang naga-naganya bakal membuatku naik darah, aku akan menenangkan diri dengan membaca. Cerita ringan dan lucu akan mengembalikan suasana hatiku menjadi lebih ceria, maka menghindarkanku dari konflik yang akan kusesali belakangan.

Buku menghindarkanku dari kesepian. Selagi kecil aku sering ditinggal orangtua untuk bepergian, selama ada buku aku tidak merasa keberatan. Tugas menjaga adik-adik dan pekerjaan rumah pun bisa kulakukan dengan senang hati karena di saat istirahat banyak buku yang menunggu. Sekarang pun seperti itu. Kesibukan dan tanggung jawabku sebagai seorang istri dan ibu agak menjauhkanku (secara fisik) dengan teman-teman. Karena tidak selalu bisa keluar rumah meski hanya untuk makan siang dengan teman, buku menjadi sahabatku di kala istirahat dan rumah sepi selagi suami bekerja dan anak tidur dengan nyenyak.

Buku menjadi senjata ampuh jika aku sedang tidak ingin diganggu. Selagi menunggu antrian, menanti teman, saat sakit, atau untuk menimpuk orang. Oh ya, teman kecilku yang jail dulu pernah benjol karena kusambit dengan kamus hardcover. Sejak saat itu, setiap kali dia melihatku membawa buku tebal, dia akan lari tunggang langgang.

Buku menghindarkanku menjadi orang yang membosankan. Jika harus mengobrol dengan orang lain, pengetahuanku dari buku sangat berguna.

Buku menyediakan tempat di kehidupanku bagi teman-teman baru. Banyak teman. Meski tidak mengenalku luar dalam, teman-teman sesama pecinta buku adalah teman-teman yang paling kusukai dan kuhargai. Seseorang yang ingin mengenalku hanya perlu memakai buku sebagai media, maka aku akan menanggapi. Tapi tidak untuk orang yang ingin mengenalku dan menggunakan buku hanya sebagai alasan palsu. Hak istimewa itu sudah kuserahkan kepada suamiku tercinta. Dan ini adalah alasan mengapa buku mempertemukanku dengan jodohku. Selagi pendekatan semasa sekolah dulu, suamiku akan meminjam buku dariku, dan setelah mengembalikan aku akan bertanya, “Gimana? Bagus, kan?” sementara jawaban yang kudapatkan adalah, “Nnggg…boleh pinjem Lucky Luke aja nggak?” dan akhirnya saat itu komik-komikku lebih banyak ada di rumahnya daripada di rumahku.

Buku mendekatkanku pada anakku satu-satunya. Dengan membacakannya dongeng, seringnya sebelum tidur, aku merasa lebih dekat dengannya. Dengan profesiku yang tidak jauh dari buku, aku tidak perlu bekerja di luar rumah sehingga tidak kehilangan momen-momen penting yang dialami anakku. Dengan buku aku bisa memberinya pengetahuan, mengajarinya segala sisi kehidupan yang akan dialaminya dengan contoh karakter-karakter di buku kegemarannya, mengisi kepalanya dengan hal-hal berguna.

Tapi buku jugalah alasan mengapa aku memiliki musuh, menjadi pelit dan tidak bisa menolerir orang-orang tertentu. Orang-orang yang gemar membaca tapi tidak menghargai milik orang lain. Orang-orang yang meminjam bukuku dan tidak mengembalikan, atau mengembalikannya dalam keadaan menyedihkan. Orang-orang yang tidak mau peduli bahwa buku adalah hartaku, bahwa aku lebih menghargai buku daripada emas atau uang. Orang-orang seperti inilah yang akhirnya kuhindari, atau bahkan kumusuhi. Pernahkah mendengar perkataan ini dari orang yang menghilangkan bukumu yang berharga: “Alah, tibang buku doang, berapa sih harganya?” Dan pada saat itulah biasanya tinjuku melayang dan orangtuaku terpaksa duduk di hadapan Kepala Sekolah keesokan harinya.

Tapi pada saat aku gundah, sedih, merana, marah dan sakit hati, hanya pelukan dari suami dan anakku serta pemandangan buku berderet rapi di rak besar di rumahku yang bisa menenteramkanku. Hanya dengan mengendus halaman-halaman buku maka aku tidak memerlukan aromatherapy dan salon mahal demi mengendurkan syarafku. Bagaimana denganmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: