Horror, anyone?

I consider Stephen King a god.

Sejak kecil, gue terbiasa membaca dan menonton horor. Ini kutukan keluarga, karena orangtua dan uwak, tante, oom, sepupu, hampir semua penyuka horor. Perbedaan generasi menentukan perbedaan idola. Generasi orangtua gue memuja Alfred Hitchcock. Generasi gue tentu saja menganggap Stephen King adalah anugerah dari langit.

Sayangnya, beberapa tahun belakangan gue jarang baca atau nonton horor. Pertama, kesibukan tidak memungkinkan sering berleha-leha menonton atau baca (yang bukan kerjaan terjemahan atau editan). Kedua, tidak banyak film atau buku horor yang menggugah gue belakangan ini. Tapi dulu, zaman SD dan SMP, gue dan sepupu-sepupu sering mendiskusikan buku dan film horor, memuji yang kami anggap bagus dan menyeramkan, serta mencaci yang kami anggap konyol dan menggelikan. Jika setelah menonton atau membaca horor kami jadi tidak bisa tidur, berarti buku atau film itu sukses besar. Karena kami adalah orang-orang yang tidak mudah takut. Meski jika berinteraksi dengan makhluk halus (yang sering terjadi karena rumah keluarga kami sudah berdiri sejak zaman penjajahan), kami bakal ketakutan juga. Tapi itu tidak membuat kami kapok sama sekali.

Serial Goosebumps dan Fear Street buah karya RL Stein dan buku-buku Stephen King adalah santapan sehari-hari semasa sekolah dulu. Dan sejak dulu kami sering membuat cerita horor dadakan, meski akhirnya seringkali berganti genre jadi komedi.

Maka, tidak heran kan kalau gue ingin menulis buku yang menjurus ke horor? Gue nggak sepercaya diri itu untuk menulis cerita horor murni. Mungkin bakat menakut-nakuti orang masih belum meyakinkan. Meski suka sekali horor, genre yang paling gue suka adalah fantasi. Entah itu urban fantasy, high fantasy, traditional fantasy, atau dark fantasy. Neil Gaiman adalah salah satu pujaan gue belakangan ini, karena dark fantasy-nya benar-benar gue anggap oke, dan ide-idenya betul-betul sinting. Semakin sinting penulis, gue bisa semakin cinta. Tapi ini tidak berlaku bagi Clive Barker yang gue anggap mabuk permanen *grins*

Dari hasil perbincangan dengan beberapa teman dan salah satu editor sebuah publishing house, bisa disimpulkan genre horor di Indonesia ini masih kurang penggemar. Setidaknya, masih kalah jauh dibandingkan dengan buku-buku bertema realistis dan romantis. Mungkin karena kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia sering bersentuhan dengan makhluk halus sehingga pada bosan? Ha, ha. Tapi apakah kenyataan ini menyurutkan keinginan gue untuk menulis menjurus ke horor? Tidak. Karena menurut gue, menulis adalah ekspresi diri, menyalurkan hobi dan kegemaran, dan harus gue lakukan dengan sukacita dan tanpa beban. Sama sekali tidak menutup kemungkinan di masa depan gue bakal menulis kisah realistis, tapi mungkin tidak romantis (karena gue bukan orang romantis sama sekali, and I don’t do romance). Tapi pada saat ini gue masih mau berkecimpung di genre yang paling gue suka.

Hanya untuk mengingatkan, gue TIDAK menganggap buku-buku gue LAYAK disebut fantasy, atau dark fantasy. Tidak. Kesannya bakal menghina beberapa penulis fantasi lokal yang sudah bekerja keras membangun dunia lain mereka demi menciptakan kisah fantasi ‘betulan’. Buku-buku gue masih dilabeli Teenlit, meski mungkin agak berbeda dari kisah-kisah Teenlit yang lain. Ternyata ada beberapa pembaca yang menganggap The Bookaholic Club itu seram, spooky, dan menegangkan. Alhamdulillah, berarti gue berhasil membangkitkan imajinasi pembaca sehingga ada yang betul-betul merasa ketakutan. Betapa kejamnya, bersyukur karena bisa nakut-nakutin orang *grins*

Teenlit gue berikutnya, Mirror, Mirror on the Wall… juga mengetengahkan kisah menjurus fantasi, tapi mungkin tidak seseram The Bookaholic Club. Tapi sequel The Bookaholic Club yang sedang gue tulis sekarang mungkin bakal lebih spooky lagi, karena buku pertama hanya gue anggap sebagai perkenalan.

Ada satu naskah yang akan terbit lagi dan tiga naskah yang masih dalam proses pengerjaan, semua menjurus ke fantasy….dan horor. Meski gue tidak menyangkal bakal sangat senang jika buku-buku gue jadi bestseller, gue tidak pernah berharap banyak. Karena genre yang gue geluti sekarang bukan yang digilai para pecinta buku kebanyakan. Tapi betapa senangnya kalau gue bisa menyentuh beberapa pembaca yang benar-benar menyukai genre seperti ini, memberi mereka sesuatu yang lain daripada yang lain. Meski mungkin gue hanya menyentuh kaum minoritas, gue bahagia karena bisa melakukan sesuatu yang betul-betul gue suka. Doakan saja semoga tidak lama lagi, genre yang gue geluti ini tidak lagi menjadi kaum minoritas di negeri sendiri dan gue jadi lebih piawai menakut-nakuti orang *lol*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: