Logika pada Fantasi

Seorang blogger bernama FA Purawan mengisi blog-nya dengan review buku-buku fantasi Indonesia. Which, I have to admit, most of them I’ve never read. But I really enjoy his reviews, dan rasanya gue lumayan sepaham sama Mas Purawan ini.

Sampai detik ini, gue masih enggan baca fiksi fantasi lokal. Why? Karena ada satu masalah pada sebagian besar buku fantasi lokal yang menurut gue adalah hal yang sangat penting, bahkan mungkin paling penting dari segala aspek lainnya: LOGIC.

Fantasi. Logika. Nggak nyambung? Salah besar. Menciptakan sebuah ‘dunia baru’ atau disebut alternate world, berarti juga harus memikirkan sampai aspek terkecilnya. Oh yeah, paling gampang adalah mengacu ke Middle-earth ciptaan Tolkien. Itu yang paling lengkap. Mulai dari terbentuknya dunia sampai segala isinya, ras-rasnya, bahasanya, kebudayaannya, sejarahnya. Tentu tidak semua buku fantasi menyuguhkan dunia selengkap ini. Tapi jika ingin menciptakan alternate world, cobalah belajar dari Tolkien.

Tolkien pernah berkata seperti ini: “Jika kita ciptakan dunia dengan matahari berwarna hijau, logikanya pasti klorofil tidak berwarna hijau.” Satu hal kecil bisa mengubah hal besar. Jarak antara Shire dan Mordor pulang-pergi tentu nggak bisa ditempuh hanya dalam jangka waktu sebulan. Tolkien menghitung jarak beserta tingkat kesulitannya sampai sangat rinci. Ini namanya logika.

Let’s just say, ada cerita yg menyuguhkan adegan seperti ini (nggak harus fantasi juga sih, tapi ini cuma contoh sederhana):

1. Seseorang tiba-tiba menghadapi seekor beruang mengamuk. Apa yang bakal dilakukannya segera?

Logis: kabur lintang pukang, atau kalau dia jagoan, segera menghunuskan pedang (atau pistol atau bazooka atau panah, terserah Anda) dan melawan.

Tidak logis: berpikir dulu apakah beruang ini jenis Grizzly atau Panda? Seberapa cepat kira-kira beruang ini bisa bergerak? Apa yang terjadi kalau digocek? Berapa jumlah giginya? Sakit nggak ya kalo digigit?

Keburu mati deh.

2. Seorang anak remaja tiba-tiba masuk ke dunia lain dan nggak bisa keluar dari sana (dengan catatan dunia ini nggak seperti Narnia, yang muncul-muncul lagi di dunia nyata, tidak melewati sedetik pun), bagai lenyap ditelan bumi. Apa yang akan dilakukan orangtuanya?

Logis: panik berat dan lapor polisi, takut anaknya diculik atau diajak kawin lari.

Tidak logis: seminggu setelah anak hilang baru dicari, toh dia nggak bawa sendok.

Kenal dengan Isaac Asimov? Salah satu penulis sci-fi berpengaruh? Asimov juga menyuguhkan dunia sekian ribu tahun setelah hari ini, di mana manusia sudah lupa nenek moyangnya pernah melanglang buana menjelajah angkasa luar untuk mencari planet lain yang bisa ditinggali. Nah, logika pada cerita-cerita Asimov seperti ini:

1. Lapisan ozon bumi sudah saking tipisnya, manusia nggak ada yang bisa terpapar langsung matahari, maka mereka tinggal di gedung-gedung beton dan baja. Salah satu manusia Bumi pergi ke planet lain yang masih asri dengan matahari. Apa yang terjadi setelah dia terpapar matahari? Pingsan.

2. Ada sebuah planet utopia yang manusianya sempurna sekali. Rentang hidup mereka bisa sampai ratusan tahun karena di sana tidak ada penyakit. Salah satu dari mereka bertandang ke Bumi dan mereka sama sekali tidak mau bersentuhan dengan orang Bumi. Apa takutnya? Bukan masalah diskriminasi lho, tapi virus flu yang hanya bikin manusia Bumi pilek seminggu, bisa membuat mereka mati seketika.

Tidak logis adalah ketika sebuah pesawat angkasa luar pintunya bisa dibuka paksa pakai dongkrak. Helloooow? Gimana cara pesawat itu bisa menembus atmosfer kalau pakai dongkrak aja bisa terbuka?

Sayang seribu sayang, masih banyak penulis fantasi Indonesia yang tidak menganggap logika berperan sangat penting. Nggak bisa hanya sembunyi di belakang kalimat seperti ini, “Ini toh fantasi, apa saja bisa terjadi dengan sihir/teknologi/santet.” Bahkan kisah fantasi remaja modern macam Harry Potter pun memiliki logika. Bahkan Narnia pun pakai logika.

Maka, fantasi bukan berarti logika tabrak lari. Inilah sebabnya gue belum berani merambah genre pure fantasy. Butuh kerja keras, butuh riset mendalam, butuh imajinasi tidak terbatas, dan butuh kesabaran tinggi. Fantasi bukan cuma menyuguhkan seribu jenis makhluk aneh yang kalau dilihat anatominya pun rasanya nggak mungkin bisa bicara atau bergerak, apalagi joget. Fantasi bukan hanya berisi sihir yang tanpa batas dan tanpa aturan.

Gue salut sama beberapa penulis yang sudah berani merambah genre pure fantasy ini, hanya saja belum menemukan yang betul-betul memerhatikan logika. Atau mungkin ada di luar sana, tapi gue aja belum ngeh. Satu peraturan yang gue terapkan pada diri sendiri:

Jangan biarkan pembaca menemukan celah untuk bertanya-tanya, “Kenapa begini? Kenapa nggak begitu aja? Apa dasarnya si tokoh berbuat ini? Apa alasannya?” Pasti selalu ada kekurangan, tapi kalau soal logika, rasanya kekurangannya harus diminimkan sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: