Menulis, Menerjemahkan, Menyunting dan Mengulas

Buatku, apa pun kegiatan yang kulakukan, kujadikan itu pembelajaran. Mulai dari mencuci piring (oh, kalau panci terbuat dari bahan ini, menggosoknya harus begini) sampai mengendalikan mobil di tanah berlumpur (kalau menekan gas segini, bakal terbalik nih). Apalagi jika membicarakan profesi. Menulis, menerjemahkan, menyunting dan mengulas adalah sumber pelajaran yang akan terus aku dapatkan sampai kapan pun.

Menulis adalah kegiatanku yang sudah mendarah daging. Bukan berarti hanya menulis novel atau artikel, tapi menulis dalam format dan media apa pun juga. Pertama kali aku menulis cerita lengkap adalah saat berusia enam tahun, meski hanya satu halaman buku tulis, tapi cerita itu memiliki awal, pertengahan, dan akhir. Dengan menulis aku belajar berkomunikasi, aku belajar bercerita kepada orang lain. Banyak membaca adalah salah satu pendukung dalam meningkatkan kemahiran menulis. Bagaimana membangun plot yang baik, bagaimana berbahasa yang baik, bagaimana menyampaikan suatu maksud kepada pembaca dan dimengerti. Semakin banyak aku menulis, semakin banyak pelajaran yang kudapatkan. “Menulislah tentang sesuatu yang benar-benar kauketahui” adalah nasihat bijak yang selalu kupegang. Untuk mengetahui sesuatu, aku harus mencari tahu, harus belajar. Maka riset adalah proses pembelajaran lain dalam menulis.

Menerjemahkan sudah menjadi profesiku selama tujuh tahun. Dengan menerjemahkan aku belajar untuk menyampaikan kembali maksud sang penulis dengan baik dan benar, tidak mengubah apa pun. Kemampuanku berbahasa asing terasah, begitu pula berbahasa Indonesia. Mengalihbahasakan sebuah naskah menuntutku untuk mencari padanan yang pas, gaya bahasa yang pas, dan menghormati sang penulis. Untuk beberapa naskah aku bahkan berkomunikasi langsung dengan penulisnya demi mendapatkan hasil maksimal.

Menyunting menuntutku mengasah bahasa asing dan bahasa Indonesia dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi, selain belajar untuk menjadi semakin jeli dan teliti. Dengan menyunting aku belajar menghormati sang penerjemah, tidak mengubah gaya bahasanya tapi hanya memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Ini membuatku menekan rasa egois yang bisa saja keluar dalam pikiran, “Kalau aku yang menerjemahkan, aku akan memakai gaya seperti ini, seperti itu, dan lain-lain.” Memang terkadang aku mengganti beberapa kata dengan sinonim, tapi hanya jika terjadi pengulangan. Aku akan menghormati pilihan kata dan bahasa sang penerjemah, selama tidak melenceng dari naskah aslinya.

Mengulas buku untuk dinilai apakah layak diterbitkan di sini adalah pengalaman baru yang menyenangkan. Di sini aku belajar untuk menganalisis dengan subjektif, tidak hanya berdasarkan kegemaranku saja. Apa yang diinginkan pembaca di sini? Apakah kisah seperti ini akan mampu terjual? Apakah ada yang bertentangan dengan moral dan nilai-nilai yang dipegang oleh bangsa kita? Apakah naskah ini layak dibaca masyarakat luas?

Belajar adalah proses sehari-hari. Dari sekian kegiatan di atas, aku tidak bisa memilih mana yang lebih kusukai, karena masing-masing memiliki kelebihan. Selama masih berhubungan dengan buku, dengan senang hati aku belajar dan belajar lagi. Belajar adalah pilihan. Jika aku tidak belajar dari pengalaman dan dari orang lain, aku tidak akan bisa memberikan yang terbaik kepada pembaca. Dan itu sama saja seperti mencoreng profesi sendiri. Aku memilih untuk tidak mengecewakan, maka aku belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: