Naskah Terjemahan yang Bikin Editor Kelojotan

Ide judul di atas berasal dari Uci *cengir* Aku tidak akan membicarakan terjemahan yang salah, atau frasa yang tidak tepat. Bagaimana jika terjemahan sudah benar, tapi bahasa Indonesia-nya sendiri berantakan?

Menerjemahkan berarti menceritakan kembali, dengan kata-kata si penulis sendiri. Meski terjemahan letterlig tidak disukai (itu sih serahkan saja pada transtool), penerjemah juga tidak selayaknya menciptakan kalimat sendiri yang bukan berasal dari penulis. Seorang penulis mencurahkan isi kepalanya pada kalimat-kalimat yang ditulisnya. Sudah menjadi tugas penerjemah untuk menyampaikan kalimat-kalimat itu dengan baik dan benar ke bahasa sasaran. Mengurangi, menambah, atau mengubah arti (jika tidak diperlukan) sama sekali tidak ditolerir.

Tapi sayangnya masih ada saja penerjemah yang tidak tahan jika tidak mengarang kalimat sendiri. Aku sendiri berusaha menyelami tulisan pengarang agar bisa menentukan gaya bahasa seperti apa yang pas untuk sebuah naskah, kadang-kadang perlu berdiskusi dulu dengan editor-editor lain. Novel populer yang modern, di mana gaya bahasa pengarang menjurus santai dan dialog-dialog tokoh terkesan gaul, tentu lebih pas jika diterjemahkan dengan gaya bahasa yang sama. Tapi bayangkan jika sebuah novel klasik yang ber-setting abad pertengahan diterjemahkan dengan bahasa gaul, seperti apa jadinya?

Sebagai contoh, dialog dari novel klasik abad pertengahan:

“Just give it a rest, all right?” diterjemahkan menjadi: “Ih, udah deh ah!”

Atau bagaimana jika Samwise Gamgee di buku Lord of the Rings berkata begini, “Tuan Frodo, jangan menghilang dong! Aku kan sudah janji sama Gandalf nggak bakal ninggalin kamu.”

See what I mean? Selain penguasaan struktur bahasa Indonesia yang benar, pemilihan gaya bahasa juga sangat penting. Struktur kalimat yang berantakan dan pemilihan gaya bahasa yang salah bakal bikin editor kelojotan. Kelebihan kata sambung dan keterangan (dan, daripada, merupakan, adalah, di, ke, menuju ke, masuk ke dalam, mendongak ke atas, alis mata, dll) juga bisa membuat editor mijit-mijit kepala. Pengulangan kata yang bikin mata gatal juga sebaiknya dihindari. Misalnya:

Gadis tersebut mengambil buku tersebut yang terletak di atas meja tersebut.

Itu hanya contoh. Aku tidak bilang terjemahanku sempurna. JAUH dari itu. Tapi aku berusaha tidak membuat editorku kelojotan. Dan sebagai editor, aku sering berpikir apakah beberapa penerjemah begitu tidak pedulinya pada apa yang dikerjakan sehingga mampu membuatku selonjoran di ubin sambil nangis gerung-gerungan? Aku pernah melihat struktur bahasa yang begitu kacau sehingga tidak bisa dimengerti apa yang ingin disampaikan, tambahan lagi aku sendiri tidak bisa menemukan yang mana subjek, predikat, dan objeknya, saking semua kata saling tumpang tindih.

Beberapa penulis senang berpanjang-panjang dalam membuat kalimat. Selagi masih bisa dipertahankan dalam bahasa sasaran, aku merasa tidak perlu mengubah kalimatnya. Tapi jika sebuah kalimat panjang tidak bisa dipertahankan (misalnya terlalu banyak kata sifat dan keterangan) maka aku berusaha memenggalnya menjadi beberapa kalimat yang lebih sederhana dan akan lebih mudah dimengerti, TAPI tidak akan mengubah artinya.

Contoh kalimat seperti ini:

Only sometimes in the long evenings of July as she watched the western mountains, dry and lion-colored in the afterglow sunset, she would think of a fire that had burned on a hearth, long ago, with the same clear yellow light.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa si tokoh (she) akan teringat pada api unggun berwarna kuning saat dia melihat pegunungan sebelah barat. Selebihnya adalah keterangan. Tanpa perlu memenggal kalimat panjang itu, aku akan berusaha menyampaikan sesuai dengan niat asli sang penulis:

Hanya kadang-kadang, pada malam-malam panjang di bulan Juli ketika  memandangi pegunungan di sebelah barat, gersang dan berwarna seperti kulit singa di bawah sisa-sisa cahaya matahari terbenam, gadis itu akan teringat pada api yang membara di tungku, dahulu kala, dengan warna kuning cerah yang sama.

Mungkin terjemahan di atas belum sempurna, tapi sebisa mungkin dekat dengan aslinya. Jadi, mau bikin editor-editor kelojotan? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: