Ngedit atau Nerjemahin?

“Mana yang lebih enak?” Begitu pertanyaan beberapa orang. Ya dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, kalau dibandingkan satu sama lain.

See the picture here? Itu tumpukan pekerjaan gue sekarang. Tapi satu buku lagi sudah meluncur via TIKI menuju rumah gue: Maximum Ride #3. Total satu buku yang sedang diedit dan enam buku yang harus diterjemahkan.

Enak tidak enak, semua gue nikmati. Kalau mengedit tentu bisa lebih cepat pengerjaannya, tinggal baca hasil terjemahan dan betulkan apa yang perlu dibetulkan, sesuai dengan naskah aslinya. Kalau penerjemahnya sudah piawai, pekerjaan mengedit jadi mudah sekali. Kadang hanya membetulkan salah ketik saja, atau pengejaan yang berubah.

Tapi kalau perlu membetulkan bentuk kalimat, konteks, salah pengertian, bahkan sampai layout-nya, bisa pusing tujuh keliling. Ada penerjemah yang hobi bikin kalimat gondrong, terpaksa dibabat habis. Ada juga yang layout-nya acak-acakan, terpaksa dirapikan. Ada yang tidak menerjemahkan istilah atau rima (misalnya dari puisi dan lagu), terpaksa puter otak lagi. Ada yang malas mencari tahu arti sebuah kata benda, terpaksa googling lagi.

Mengedit butuh kesabaran ekstra kalau gue menganggap beberapa kalimat tertentu bisa diubah jadi lebih bagus. Masalahnya, ini namanya menerjemahkan ulang. Dan gaya sang penerjemah bisa ketimpa sama gaya terjemahan gue dong. Dilema deh. Mana mungkin satu naskah terjemahan gue ubah semua?

Intinya, mengedit adalah merapikan hasil terjemahan tanpa mengubah gaya bahasa sang penerjemah. Dan ini kadang bikin gue frustrasi.

Kalau soal uang honornya, jelaaaas menerjemahkan lebih enak. (Semua penerjemah berteriak setuju). Selain bisa bebas merangkai kalimat sendiri, rasanya lebih puas, meski nanti pasti ada aja yang dibetulkan editor. Cuma, waktu pengerjaannya pasti lebih lama. Selain itu, gue dapet lima ekspemplar complimentary copy untuk terjemahan, sementara untuk editan hanya dapet satu copy, hehe. Maruk. Maklum, banyak saudara yang minta jatah. Dasar mental gratisan!

Dan rasanya, jadi penerjemah butuh mental yang lebih baja, karena jika terjemahannya dianggap tidak memuaskan, pasti nama penerjemah yang ditunjuk-tunjuk, bukan nama editornya.

Jadi, dua-duanya ada suka dan dukanya. Tapi dua-duanya gue suka. Makanya sejak pertama kali menerjemahkan/mengedit, tak satu pun tugas yang gue tolak. Editor in chief juga mengerti, mana yang mampu gue kerjakan dan mana yang tidak. Yang pernah gue tolak hanya tawaran dari penerbit lain, karena dari satu penerbit aja, gue udah ketimbun! Dan gue pernah menolak mengerjakan non-fiksi, karena merasa lebih nyaman menerjemahkan fiksi. Gue gak akan bisa bekerja dengan total jika pekerjaan itu tidak gue sukai. Dan gue nggak pernah mau memberikan hasil kerjaan yang kurang memuaskan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: